All My Heart

 

Author : Fishymagnae

Cast :

  • Kang Yong Rin
  • Lee Sungmin

Length : Oneshoot

Genre : Romance

 

 

 

~~~

All My Heart~

Mataku tak bisa berhenti memandangi seorang namja yang sedari tadi asik memainkan piano dihadapanku. Lagu All My Heart mengalun dalam permainannya. Indah dan terdengar sangat merdu. Membuatku terus bertahan disini sejak satu jam yang lalu.

Prok prok prok

Aku memberinya tepukan tangan yang sangat kencang ketika namja itu menghentikan permainannya. Namja itu menatapku dingin saat Aku terus memberinya tepuk tangan.

“Permainan mu semakin baik Lee Sungmin” ucapku pada Sungmin, namja yang memainkan piano tadi.

Sungmin balas menatapku dengan tatapan yang lebih dingin dari yang tadi. Sedetik kemudian namja itu berjalan meninggakan ku.

Setelah Sungmin pergi meninggalkan ruangan ini, Aku segera menghembuskan napas untuk menenangkan diriku sendiri.

Lee Sungmin. Dulu kami berdua adalah sepasang sahabat yang sangat amat dekat. Namun semenjak kepindahanku beberapa tahun lalu ke Amerika, Aku dan Sungmin putus kontak. Hingga akhirnya Aku memutuskan kembali ke Korea Selatan setengah tahun yang lalu.

Namun bukannya menyambut baik kepulanganku ke Korea, Sungmin bahkan berubah menjadi lebih dingin padaku. Ia bahkan seperti menganggapku tidak ada. Sakit! Perih!. Entah kata apa lagi yang bisa mengungkapkan perasaanku saat ini untuk Sungmin.

Tes tes

Lagi-lagi air mataku mengalir saat membayangkan kenangan kami dulu. Sungmin yang lembut, Sungmin yang hangat, Sungmin yang selalu peduli, Sungmin yang sangat menyayangiku. Aku merindukan sosok Sungmin dahulu. Bukan yang sekarang. Bukan hanya dingin, Sungmin bahkan berubah menjadi lebih pendiam dan tertutup padaku. Hanya padaku!.

Aku merogoh ke dalam tas kecil yang ku bawa. Mengambil sapu tangan untuk menghapus air mata yang terus mengalir ini.

Setelah memastikan air mata ini sudah terhenti sempurna, Aku segera melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini.

~~~

“Sungmin oppa” panggilku pada namja dihadapanku ini. Ia menghentikan langkahnya. Aku segera mengejarnya dan mensejajarkan langkahku dengan langkah Sungmin oppa.

“Kau mau kemana ?” tanyaku pada namja ini. Bukannya menjawab Sungmin malah semakin mempercepat langkahnya. Aku terus berusaha mengejar Sungmin tanpa memperhatikan jalan. Dan tiba-tiba saja.

Brukk

Aku tersandung sebuah krikil yang ada dijalan. Sedetik kemudian Aku merasakan sakit di daerah lututku. Dan benar saja, saat Aku melihatnya, lututku sudah penuh dengan darah segar yang terus mengalir.

Sungmin menghentikan langkahnya dan membalikkan tubunya. Ia menatapku sejenak. Aku membalas tatapan matanya dengan harapan semoga dia mau menolongku saat itu. Setidaknya mungkin dengan itu sakit yang ku rasakan bisa berkurang karenanya.

Namun harapanku musnah saat mengetahui bahwa Sungmin kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkanku. Air mataku lagi-lagi mengalir. Sekarang sakit yang ku rasakan dilututku tidak sesakit yang ku rasakan dihatiku.

~~~

“Auu”

Luka yang berada di lutuku memberontak saat Aku membersihkannya dengan air. Setelah ku rasa cukup, Aku segera menempelkan plester untuk mencegah infeksi pada lututku.

Tiba-tiba saja lutuku sudah tidak terasa sakit lagi. Digantikan oleh rasa sakit yang lebih terasa menyakitkan yang berasal dari dalam hatiku.  Sikap dingin Sungmin tadi membuatku terus mengeluarkan air mata. Namja itu bahkan sama sekali tidak peduli lagi denganku.

“Waeyo ?” tanyaku pada diriku sendiri.

Aku mengalihkan pandanganku pada sebuah bingkai foto yang sengaja ku tempatkan diatas meja sebelah tempat tidurku. Foto kenanganku bersama Sungmin. Terlihat digambar itu Aku dan Sungmin sedang tertawa lepas sambil mengarah ke arah kamera.

Tess tess

Air mataku kembali menetes melihat foto itu. Tawa lepas Sungmin yang ada difoto itu sangat Aku rindukan. Membuatku kembali merutukkan keputusanku untuk pindah ke Amerika. Meninggalkan Sungmin sendiri disini.

~~~

“Sungmin oppa, ada yang ingin Aku bicarakan” ucapku dalam sambungan telfon dengan Sungmin oppa.

“Ne. besok jam sepuluh di taman yaa”

Klikk

Sambungan telfon dengan Sungmin terputus seketika. Aku mengedarkan pandanganku pada ruangan berbentuk persegi ini. Kamarku yang dulu dihiasi oleh barang-barang berwarna pink soft kini berubah berisi kardus-kardus yang siap diangkut pergi dari sini.

“Kau sudah memberitahu Sungmin ?” tanya Eommaku yang tiba-tiba saja sudah berdiri diambang pintu yang tidak tertututp.

“Anio” jawabku singkat.

“Cepatlah beritahu Sungmin. Jangan sampai Kau lupa memberitahu tentang keberangkatan kita. Ingat kita besok berangkat jam 12” jelas Eomma, Aku mengangguk kikuk. Enah kenapa perasaanku tidak enak. Aku takut kehilangan Sungmin.

Keesokan harinya Aku sudah berangkat menuju taman sejak jam Sembilan. Untuk kali ini menunggu adalah hal yang tidak menyebalkan seperti biasanya. Apalagi ini adalah menunggu seseorang yang sangat berharga untukku.

Saat ini pula Aku berencana akan menyatakan perasaanku pada namja imut itu. Memang sejak beberapa tahun yan lalu, lebih tepatnya saat sekolah menengah pertama, Aku mulai menyukai Sungmin.

Aku kembali menatap jam tangan yang melingar ditanganku. Sudah jam setengah 12 tapi Sungmin belum datang. Waeyo ? padahal Aku sangat menginginkan kedatangannya.

Menit-menit terus berlalu. Aku terus menatap jalan setapak yang berada tepat disamping kananku. Berharap dari ujung jalan tersebut terlihat seseorang yang Aku tunggu sejak tadi.

I sungani haengbokhae jeongmal naege waseo gomawo jeongmal

Nada deringku terdengar membelah kesepian yang ada ditaman ini. Sebuah panggilan dari Eomma.

“Ne, Aku akan berangkat sekarang Eomma” ucapku lalu mematikkan sambungan telfon tersebut.

Aku berdiri sambil kembali menatap taman ini. Sepi. Masih belum terlihat sosok Sungmin oppa yang ku tunggu.

Pupus lah sudah semua harapanku untuk mengatakan perasaanku padanya sebelum Aku berangkat ke Amerika. Langkahku berjalan gontai menuju jalan raya. Sesekali Aku terus menengok ke arah belakang. Siapa tau disana ada Sungmin yang baru datang.

Dan sampai Aku masuk ke dalam taksi pun Aku belum menemukan namja itu sama sekali. Apa dia tidak mau mengantar ku ? waeyo ? lagi-lagi air mataku mengalir mengingat wajah Sungmin. Senyumnya, gaya aegyonya, semuanya akan Aku rindukan untuk selamanya.

~~~

Aku melangkahkan kakiku menuju sebuah mall yang ada di pusat kota. Setelah memasukinya, Aku segera melangkahkan kakiku menuju sebuah tempat untuk membeli beberapa kebutuhanku selama satu bulan ke depan.

Drtt drtt

Sebuah getar di ponselku membuatku terdiam sejenak untuk mengambil benda tersebut dari dalam tasku.

Note :

Sungmin oppa.

Aku segera melihat tanggal yang tertera dilayar ‘home’ ponselku. Tanggal 30 Desember. Dua hari lagi Sungmin oppa berulang tahun. Aish,, Aku memang sangat pelupa. Bahkan hal sepenting ini saja Aku hampir melupakanannya.

Tiba-tiba terlintas diotakku sebuah ide untuk merayakan ulang tahun Sungmin oppa. Aku segera melangkahkan kakiku menuju sebuah rak yang berisi bahan-bahan untuk membuat kue. Yapp!! Aku memang akan membuat kue untuk Sungmin oppa.

Setelah membayar semua belanjaanku dikasir. Aku segera mendorong trolli menuju parkiran. Langkahku terhenti saat melihat sepasang namja dan yeoja yang sedang bergandengan tangan dihadapanku.

“Sungmin oppa” ucapku tanpa sadar. Mereka berdua langsung mengalihkan pandangannya padaku. Sungmin menatapku dingin. Sedetik kemudian ia menggandeng tangan yeoja itu dan membawanya pergi dari hadapanku.

~~~

Brukkk

Aku menutup pintu kamar dengan sangat kencang. Membuat beberapa pigura foto yang terletak tidak jauh darinya ikut bergoyang-goyang.

Aku segera menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Perlahan air mataku mulai menetes lagi mengingat kejadian tadi.

Siapa yeoja tadi ? apa hubungan dia dengan Sungmin oppa ?

Pertanyaan itu terus terbayang dalam benakku. Membuat air mataku yang keluar semakin banyak. Napasku pun semakin terengah-engah karena kesulitan menghirup oksigen dan menyebabkan karbondioksida yang seharusnya Aku keluarkan tertahan didalam.

Yeoja bertubuh sempurna itu memang terlihat serasi berjalan bersama Sungmin. Terlihat seperti pasangan kekasih yang sangat sempurna. Pasti kalau melihat mereka berdua bersama bisa membuat orang lain iri dengan keserasian mereka.

Aku kembali memandang foto kami berdua. Membuatku semakin deras mengeluarkan air mata. Perlahan pandanganku mulai terlihat berbayang dan sedetik kemudian Aku merasakan semua yang ku lihat sudah menjadi gelap.

~~~

Sinar matahari masuk melewati jendela-jendelaku yang sama sekali belum tertutup tirai. Semalam Aku terlalu lelah setelah menangis seharian. Membuatku tanpa sadar tertidur diatas tempat tidur.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Setelah mandi dan merapihkan diri, Aku segera menuju dapur dan mulai merapikan semua bahan belanjaan yang kemarin sudah Aku beli.

Aktifitasku terhenti saat membereskan beberapa bahan untuk membuat kue. Aku terus memandang bahan-bahan itu. Berusaha melupakan kejadian kemarin dan mulai berkonsentrasi untuk membuat kue.

~~~

Ting tong

Pagi ini adalah hari bersejarah bagi Sungmin oppa. Ini adalah hari kelahiran namja imut itu.

Dan kini Aku sudah berada didepan rumah Sungmin lengkap dengan sebuah kotak yang berisi kue tart yang memang sudah ku persiapkan sejak kemarin.

Krekk

Pintu rumahnya terbuka. Dan terlihatlah sesosok wanita yang sudah cukup berumur dibalik pintu tersebut. Lee ahjuma. Yang tidak lain adalah eomma dari Sungmin oppa.

“Annyeong ahjuma” sapaku pada Lee ahjuma.

“Annyeong Yong Rin. Ayo masuk” jawabnya sambil menarikku memasuki rumahnya.

Lee ahjuma memang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Beliau selalu memintaku datang ke rumahnya setiap hari untuk menemaninya menjalani aktifitasnya.

“Yong Rin-aah Kau kemana saja ? ahjumma sangat merindukan pergi bersamamu” ucapnya.

“Mianhae ahjuma. Akhir-akhir ini Aku sedang sibuk jadi belum sempat mampir” jawabku sambil memberikan senyuman.

Lee ahjumma lalu mengajakku mengobrol tentang aktifasnya yang dilakukan tanpa diriku. Aku menanggapinya dengan sedikit bercanda. Aish, kalau seperti ini Aku jadi merindukan eommaku sendiri.

“Aish, kenapa Aku jadi mengajakmu berbicara. Mianhae Yong Rin-aah. Kau ke sini untuk bertemu Sungmin bukan ?” tanya Lee ahjuma.

“Ahjumma tau saja hehe” Lee ahjuma tertawa mendengar jawabanku.

“Mianhae Yong Rin-aah, Sungmin sedang pergi. Mungkin sebentar lagi pulang. Kau mau menunggunya ?”

“Apa boleh ahjuma ?”

Lee ahjuma menjawabnya dengan senyuman. “Aku mau keluar dulu Yong Rin. Tidak apa-apa ?” tanyanya, Aku menjawabnya dengan anggukan.

“Ne, Aku akan menjaga rumahmu ahjuma”

Lee ahjuma lalu segera mengambil tasnya dan pergi meninggalkan rumah ini. Sekarang dirumah hanya ada Aku dan beberapa pengurus rumah Sungmin yang berada dibelakang.

Setelah hampir dua jam menunggu. Aku mendengar suara klakson mobil yang ku yakini adalah suara klakson mobil Sungmin. Aku segera merapihkan diriku dan berdiri sambil memegang kue tersebut yang sudah ku letakkan diatas piring yang tadi Aku pinjam dari Song ahjumma.

Suara langkah sepatu semakin terdengar jelas. Namja itu pasti semakin dekat dengan pintu masuk yang tertutup itu.

Krekk

“Saengil chukkahamnida Sungmin oppa” ucapku saat pintu itu terbuka. Muncul lah sosok Sungmin dihadapanku dari balik pintu tersebut.

Aku menyambut Sungmin dengan senyuman. Sedangkan namja itu memandangku bingung.

“Oppa, waeyo ?” tiba-tiba terdengar suara yeoja. Tentu saja ini bukan suaraku. Dan sedetik kemudian setelah pintu itu terbuka sempurna, Aku melihat sesosok yeoja menyeruak masuk disebelah Sungmin. Dia… yeoja yan kemarin.

Entah kenapa tiba-tiba saja tanganku terasa lemas. Dan seketika saja piring yang berisi kue tart itu jatuh ke lantai. Sungmin memandangku semakin bingung.

“Mianhae. Aku akan membereskan ini” ucapku sambil berjongkok dan mulai memunguti pecahan piring tersebut.

“Auu” tanpa sengaja pecahan piring tersebut menusuk jariku. Aku berusaha menahan tangisku dan memberskan pecahan itu kembali.

“Sunny-aah, ada yang ingin Aku bicarakan” suara Sungmin oppa tiba-tiba terdengar. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat sedang apa mereka. Dan pemandangan yang terlihat dimataku adalah Sungmin oppa sedang menggandeng tangan yeoja itu keluar rumah.

Tubuhku semakin lemas. Setelah merapihkan pecahan piring dan kue tersebut, Aku segera mengambil tasku dan segera melangkahkan kakiku meninggalkan rumah Sungmin dengan wajah penuh air mata.

~~~

Aku memandang nanar pemandangan kota Seoul dipagi buta ini. Tiba-tiba saja kejadian kemarin teringat kembali dalam bayanganku. Saat Sungmin datang, saat namja itu pergi meninggalkanku sendiri tanpa memperdulikanku sama sekali.

Air mataku kembali menetes. Separuh hatiku sudah diambilnya, tapi kenapa ia tidak mau memberikan separuh hatinya untuk melengkapi separuh hatiku yang masih tersisa. Apakah sudah tidak ada celah untukku sama sekali ?

Lututku tiba-tiba saja lemas. Aku terjatuh. Tangisku semakin deras. Aku terpaksa berpisah dari keluarga demi Sungmin. Tapi apa yang Aku dapatkan dari pengorbanan bodoh ini ? tidak ada. Dua tahun lebih Aku terus menunggu Sungmin melengkapi seluruh hatinya dengan hatiku. Namun apa ? sia-sia saja semuanya.

Apakah Aku terlalu mengharapkan Sungmin bisa memberikan hatinya padaku ? Ne. aku memang benar-benar berharap dia memberikan separuh hatinya untuk melengkapi seluruh hatiku. Bukan seperti ini. Andaikan dia tau, bertepuk sebelah tangan itu sangatlah menyakitkan.

Sungmin bukan hanya tidak memberikan sebagian hatinya untukku. Dia bahkan seperti tidak mau mengenalku lagi. Waeyo ? Aku terlalu bodoh sampai tidak mengetahui kesalahku pada namja ini. Benar. Aku memang yeoja yang bodoh. Terus menunggu seseorang yang jelas-jelas tidak mencintaiku.

Matahari mulai menampakkan wajahnya. Entah sudah berapa lama Aku menangis dan terus menangis. Wajahku yang muram ini terkena pantulan sinar matahari. Ah, Aku pasti terlihat sangat aneh pagi ini.

Aku berusaha melupakan sakit yang terasa dihatiku dan mulai melakukan aktifitas dipagi ini. Setelah membuat sarapan, Aku segera merapihkan diriku yang sangat menyeramkan ini. Mata bengkak dan wajah yang suram ini harus ku singkirkan.

Setelah merapihkan diri. Aku berniat untuk pergi ke sebuah tempat penjualan tiket. Pulang ke Amerika mungkin yang terbaik. Setidaknya disana Aku tidak sendirian. Ada appa, eomma dan eonniku yang selalu mendukungku.

~~~

Sekitar pukul tujuh malam Aku kembali ke apartment. Lusa, dengan penerbangan paling pagi Aku akan kembali ke Amerika. Semakin cepat meninggalkan Seoul mungkin semakin baik untukku.

“Kau dari mana saja ?” suara khas seorang namja terdengar saat Aku sampai didepan pintu apartmentku. Sungmin oppa. Namja itu memandangku dingin.

Aku mengangkat wajahku, “Emm. Annyeong Sungmin oppa” jawabku kaku.

“Kau dari mana ?” tanyanya lagi tanpa menjawab sapaanku.

Ia lalu mengalihkan pandangannya pada tas tenteng yang Aku bawa. Ia merebutnya dan mulai mengambil isi dari tas tersebut. Surat-surat untuk kepindahanku yang tinggal ku tanda tangani sudah ada dalam genggamanannya. Ia membaca surat-surat tersebut lalu segera mengalihkan pandanganya padaku.

“Kau akan kembali ke Amerika ?” tanyanya dingin.

“Ne oppa” jawabku pelan.

Ia lalu merapihkan kembali surat-suratku dan memasukannya kembali ke tas.

“Pergilah secepatnya” ucapnya dingin sambil mengembalikan tas tersebut padaku.

Ucapannya terdengar seperti mengusirku. Dan itu memang benar. Setelah mengembalikan tas tersebut, Sungmin segera berjalan meninggalkanku. Lutuku kembali terasa lemas. Air mataku terus menetes tanpa henti. Aku tak sanggup mengeluarkan suara apa-apa. aku terus menangis dalam diam.

Sungmin mungkin sama sekali tidak menyadari tangisanku ini. Langkah kakinya terdengar semakin kecil. Menandakan bahwa dia sudah mulai menjauh dari posisiku saat ini.

~~~

Aku terus memandang koper berisi pakaianku yang tersusun rapih dihadapaku saat ini. Dengan hitungan jam lagi Aku akan kembali ke Amerika. Meninggalkan Seoul. Sebuah kota yang sangat penuh dengan kenanganku dengan Sungmin.

Sejujurnya sangat berat meninggalkan Seoul. Apalagi Sungmin. Tapi, apa Aku harus terus menunggu cinta yang jelas-jelas bertepuk sebelah tangan ini ? Aku sudah lelah terus berusaha tersenyum tapi hatiku menangis.

“Good bye Seoul, Good bye my memories, Good bye my Love” ucapku sambil tersenyum kecil.

Drtttt

Getar diponselku menandakan bahwa sekarang Aku harus segera berangkat menuju bandara. Aku segera bangun dan mulai menarik koper meninggalkan kamar ini. Berat rasanya meninggalkan kamar yang sejak dua tahun lalu sudah menjadi tempatku berbagi keluhan tentang Sungmin.

Air mataku kembali menetes. Berat rasanya harus meninggalkan Seoul dan kenangan-kenangannya.

Kini Aku sudah sampai didepan pintu masuk. Setelah mengeluarkan kunci, Aku segera membuka dan keluar dari rumah ini.

Sejenak Aku memandang kunci tersebut. Kunci. Yaa tiba-tiba saja Aku teringat tentang perasaanku pada Sungmin. Dari dulu Aku terus mengunci rapat-rapat hatiku untuk untuk orang lain demi Sungmin. Tapi sebaliknya, Sungmin malah mengunci rapat-rapat hatinya untuk ku masuki.

“Good Bye” ucapku pelan sambil terus menatap nanar pintu apartment yang sudah terkunci ini.

Aku menghapus air mataku dengan kedua tanganku. Berharap tidak ada yang melihat keterpurukanku saat ini.

“Kalau memang tidak sanggup kenapa dipaksakan ?” ucap seseorang

Sungmin. Namja itu kini berada disamping pintu apartmentku sambil bersender pada dindingnya. Nada bicaranya kembali ramah seperti dulu saat Aku belum pergi ke Amerika.

“Kau benar-benar akan pergi ?” tanyanya

“Itu yang terbaik untukku” jawabku pelan.

“Benarkah ?”

“Ne. Mianhae oppa, Aku sudah terlambat” ucapku mengakhiri pembicaraan lalu berjalan meningglakan Sungmin oppa.

Baru beberapa langkah, Aku merasa tanganku ditarik oleh seseroang. Sungmin. Dia bukan hanya menarik tanganku, ia bahkan menarik tubuhku ke dalam pelukannya.

“Jebal. Jangan pergi. Jangan menyikasaku semakin dalam” ucapnya sambil terus memelukku.

“Semenjak kepergianmu ke Amerika, Aku sangat merasa kesepian. Mianhae jika selama ini Aku terlalu kasar padamu. Itu karena Aku hanya ingin menghukummu Yong Rin”

Aku melepas pelukannya. “Menghukumku dengan cara seperti ini ? ini benar-benar membuatku hampir mati oppa” omelku, ia mengeluarkan senyumannya.

“Mianhae. Aku tak mau kehilanganmu lagi Kang Yong Rin. Jebal. Jangan kembali ke sana” ucapnya

“Apa Aku tidak salah dengar oppa ?” tanyaku memastikan. Ia mengangguk menjawab pertanyaanku.

“Saranghae” ucapnya sambil kembali memelukku

“Oppa…” ucapku tidak percaya.

“Ku mohon jangan kembali ke Amerika lagi. Aku ada disini untukmu. Aku mencintaimu Kang Yong Rin. Saranghae. Jeongmal saranghae” ucapnya lagi

Air mata terharu kini yang keluar dari kedua mataku. Benarkah ini ? apa ini mimpi ?. Sesaat Aku tersadar. Aku memang mencintai Sungmin oppa, tapi dia sudah memiliki yeojachingu yang cocok dengannya.

“Bukankah oppa sudah mempunyai yeojachingu ?” tanyaku memastikan

“Nugu ? ahh, kau pasti berfikir Sunny yeojachinguku. Anio, dia itu sepupuku Yong Rin-aah. Jangan cemburu chagiya” ucapnya sambil mengacak-ngacak rambutku.

“Benarkah ?” tanyaku memastikan lagi. Sungmin oppa mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaanku.

“Saranghae Kang Yong Rin. Ku mohon jangan tinggalkan Aku sendiri lagi. Jangan menyiksaku lebih lama” ucapnya sambil berlutut dihadapanku.

“Saranghae Kang Yong Rin. Mau kah kau menjadi pendamping hidupku untuk selamanya ?” tanyanya sambil memakaikan sebuah cincin lalu mencium punggung tanganku.

Air mataku kembali mengalir. Terharu, bahagia, semua bergabung menjadi satu. Penantianku tidak sia-sia ternyata.

“Nado saranghae Lee Sungmin” jawabku

Sungmin lalu segera bangun dan memandangku sejenak. “Ayo kita ke Amerika. Aku akan mengizinkan kau pergi apabila kau perginya itu bersamaku” ucap Sungmin.

Aku memandang Sungmin bingung. Untuk apa namja ini pergi ke Amerika ?

“Waeyo chagiya ? kau tidak suka jika Aku pergi bersamamu ?”

“Anio oppa. Tapi, Aku bingung saja. Untuk apa kau pergi ke Amerika ?”

Sungmin tertawa sambil memandangku. “Yeoja babo. Aku pergi ke Ameriku untuk bertemu kedua orang tua mu lah”

“Untuk bertemu kedua orang tuaku ?”

“Ne. Aku akan melamarmu Kang Yong Rin” ucapnya santai sambil merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Ia lalu segera mencium pucuk kepalaku.

“Kita akan segera bersama untuk selamanya chagiya” ucapnya.

~~~

Iklan